KUNJUNGAN PENGELOLA JURNAL DI LEMBAGA LP2M UIN SULTAN SYARIF KASIM RIAU KE RUMAH JURNAL UPP1 STAIN KUDUS :: MONITORING DAN EVALUASI JOURNAL UNTUK MENINGKATAKAN EFEKTIFITAS PENGELOLAAN AKUNTABILITAS AKSES DAN MUTU PUBLIKASI ILMIAH :: Sosialisasi BOPTN Penelitian Dosen Online Oleh P3M STAIN Kudus :: LOMBA KARYA TULIS ILMIAH GURU PAI KREATIF LKTI SE JAWA TENGAH :: LOMBA KARYA TULIS ILMIAH PELAJAR LKTI SE JAWA ::

Rublik Ramadhan hari Rabu, 15 Agustus 2012 (Lihat Jawapos Radar Kudus)

Diposting oleh : P3M - STAIN KUDUS
Rabu, 15 Agustus 2012 - 11:46:50 WIB


          MENJEMPUT  "WAHYU AGUNG " DI BULAN RAMADHAN
                                                   Oleh : Suhadi, M.S.I.


          Dalam dunia pewayangan, ada anugerah kadewatan yang diturunkan dari langit, diperuntukkan orang-orang khusus, pada saat yang khusus pula. Anugerah itu disebut wahyu. Ada wahyu Makutho Romo dan lain sebagainya. Meski semua orang menginginkan bahkan hendak merebutnya, wahyu itu hanya turun pada orang yang berhak. Dalam Islam, di bulan Ramadhan, "wahyu" itu turun di malam hari, malam yang penuh misteri dan keagungan. Fakhruddin Arrazi dalam tafsir Mafatihul Ghaibnya (kunci-kunci pembuka kegaiban) mejelaskannya dengan penuh pesona.
        Malam itu (menurut Ar-Razi) seakan Tuhan berkata : ”aku sembunyikan ridlaku dalam segala taat, agar kalian para hamba, selalu melakukannya penuh hikmat. Aku selipkan murka dan adzabku di antara tumpukan –tumpukan maksiat yang terlipat, agar kalian, tidak mencoba-coba membukanya, apatah lagi mengguntingnya. Aku rahasiakan ijabahku dalam segala deru dan gemeremang doa, agar selalu bagi kalian, untuk berharap dalam Raja’ , bahkan , aku misterikan wali-waliku di antara kalian, agar terhadap sesama, kapan dan di mana saja, engkau tidak menghinakannya. Demikian pula, aku samarkan penerimaan pertaubatan, agar kalian tak lupa Istighfar dalam tiap kesempatan.
          Dan akhirnya …. Malam itu, aku rahasiakan keberadaanya, karena malam itu benar-benar luar biasa. Seandainya malam itu aku tentukan, pada hari kesekian atau kapan, maka yang harus kalian bayar akan menjadi mahal sekali. Dosa yang dilakukan dengan sepenuh pengetahuan, lebih besar adzabnya ketimbang dosa dengan ketidak-tahuan. Kalian akan menanggung setiap  titik alpa dan dosa yang di lakukan pada malam itu sama dengan 83 tahun menjalaninya. Padahal aku tahu belaka, hati kalian- wahai hambaku- sangat lemah dan pelupa, juga cenderung melanggar dosa.
         Belumkah engkau dengar sebagai I’tibar, suatu ketika, Muhammad kekasihku melihat seseorang tidur di masjid menjelang panggilan shalat di kumandangkan.Sang nabi menunggu hingga datang sahabat. Ketika Ali datang ia berkata:” bangunkan ia untuk mengambil air wudlu’. Alipun membangunkannya sembari bertanya:”engkau adalah orang yang selalu bersegera dalam kebaikan, mengapa tadi engkau tidak berkenan membangunkannya sendiri?”. Nabi menjawab:”ini semata demi kasihku padanya. Jika engkau yang membangunkan dan dia menolak atau mendongkol hatinya maka itu bukan kekufuran. Berbeda dengan aku, aku khawatir adzab tuhan menimpanya seandainya ia menolakku”. Itulah analogi rahasia, mengapa tuhan menyembunyikan kehadiran malam agung nan syahdu itu.
         Malam itu (hemat penulis) hanya akan dianugerahkan kepada para pemilik hati yang siap, siap menerima pencerahan batin, mencerecap cahaya ilahi. Malam itu para malaikat akan menaburkan do’a di langit-langit hatinya hingga akan terbit fajar kehidupan baru dalam kalbunya. Ditandai dengan munculnya matahari kesadaran dari dalam jiwanya, yang menerangi seluruh alam, mendedahkan kebajikan dan karya-karya indah yang ditorehkannya, dalam hidup dan kehidupan.
          Karena itu , boleh jadi, anugerah malam agung yang tak terpermanai  itu, telah hinggap di sanubari sebagian saudara-saudara kita di awal-awal bulan Ramadlan. Dan sebagian saudara kita yang lain, boleh jadi baru mendapatkannya di tengah-tengah bulan, bahkan tidak mustahil, mungkin di antara kita, malam itu berkenan mampir di hari-hari terakhir, atau tidak sama sekali. Kita hanya bisa berharap-harap cemas, kiranya anugerah terindah itu menyapa kita meski hanya  selintas.
       Dan tahukah kalian malam apakah itu? Itulah malam Lailatul Qadar. Tahukah kalian apakah Lailatul Qodar itu?  yaitu malam yang lebih utama daripada seribu bulan. Wallahu A’lam bi ash- Shawab.

 * Dosen STAIN Kudus, Mudir Ma'had Aly LPBA Kajen Pati.



Pengumuman

>> Lihat Semua Pengumuman

Agenda

>> Lihat Semua Agenda

Download

Video Youtube