Penutupan KKN Ke 37 :: Penutupan KKN Ke 37 :: Penutupan KKN di Kecamatan Jakenan berlangsung dengan Hikmat. :: Rublik Ramadhan hari Kamis, 3 Agustusi 2012 (Lihat Jawapos Radar Kudus) :: Rublik Ramadhan hari Rabu, 2 Agustusi 2012 (Lihat Jawapos Radar Kudus) ::

Rublik Ramadhan hari Rabu, 1 Agustusi 2012 (Lihat Jawapos Radar Kudus)

Diposting oleh : P3M - STAIN KUDUS
Rabu, 01 Agustus 2012 - 13:32:05 WIB


RAMADHAN, BULAN MELATIH DIRI
Oleh: Dr. H. Abdurrahman Kasdi, Lc, M.Si

Alumni Universitas al-Azhar Mesir, Dosen STAIN Kudus dan Sekretaris MUI Kabupaten Demak

Tujuan utama disyariatkannya puasa di bulan Ramadhan adalah agar seorang mukmin semakin bertakwa. Salah satu satu indikator ketakwaan seseorang adalah meningkatnya solidaritas sosial dengan empati terhadap fakir miskin. Ibadah puasa menyediakan peluang bagi pelakunya untuk merawat cinta kasihnya kepada fakir miskin. Dalam konsep pendidikan dinyatakan bahwa pendidikan akan lebih berhasil jika dilakukan dengan menggunakan audio visual dan learning to do. Mengajar anak berenang akan lebih efektif dengan membawanya ke kolam renang. Mengajarkan anak naik sepeda dengan memberikan sepeda kepadanya. Melatih orang mencintai fakir miskin juga demikian. Teori tentang apa itu lapar dan apa itu haus tidak menjamin orang bisa mencintai fakir miskin.
Rasulullah Saw. selalu mengajak para sahabatnya untuk berdoa, agar puasa mereka tahun ini kiranya diterima oleh Allah. Adakah perasaan khawatir ini ada dalam diri kita? Atau justru dengan berlalunya Ramadhan, seolah kita telah mendapatkan garansi kalau kita pasti akan terbebas dari api neraka. Akibatnya, seolah puasa selama sebulan itu telah menjadi penutup dari seluruh ibadah dan segala dosa-dosa mendatang. Maka sering kita lihat, di saat Ramadhan masjid-masjid masih melimpah ruah jamaahnya, shalat sunnah malam terjaga, demikian pula bacaan al-Quran. Tapi setelah Ramadhan terlewatkan, seolah semua selesai. Maka jangankan yang sunnah-sunnah, yang wajib sekalipun terkadang cenderung terabaikan.

Bulan Melatih Diri
    Ramadhan merupakan ’bulan latihan’. Kalau PSSI masuk Pelatnas, keluar dari sana tentu saja teknik bermainnya harus lebih bagus. Seorang pegawai yang ikut pelatihan, ketika keluar kualitas dan kinerjanya harus lebih baik. Kalau tidak, ya untuk apa latihan, hanya buang-buang waktu, tenaga dan biaya saja.
    Sebulan penuh umat Islam menempa diri dengan puasa Ramadhan. Latihan sabar, jujur, disiplin, hidup sederhana, dan latihan mengendalikan hawa nafsu. Berhasil tidaknya latihan kita itu, akan terlihat dalam sikap hidup kita sesudah keluar dari Ramadhan. Kalau tidak, ketika Ramadhan sabar namun setelah Ramadhan habis sabarnya, ketika Ramadhan rajin ke masjid namun setelah selesai Ramadhan selesai ke masjidnya, saat Ramadhan tekun membaca Al-Qur’an, usai Ramadhan usai pula tekunnya. Jika demikian, maka berarti latihan kita tidak berhasil.
    Salah satu wujud keberhasilan latihan Ramadhan itu memancar dalam kecintaan kita kepada kaum fakir miskin, yang kemudian ditindaklanjuti dengan membayar zakat atau shadaqah. Saat itulah kita sadar, ”Ya Allah, sudah saya rasakan bagaimana beratnya lapar dan dahaga, sudah saya alami bagaimana pedihnya penderitaan orang-orang fakir miskin yang tiap hari berteman dengan lapar dan dahaga. Sebagai pertanda kecintaan saya kepada mereka ya Allah, saya keluarkan zakat untuk mereka.”
Ramadhan mengembalikan jati diri manusia kepada fitrah yang sebenarnya, yakni sebagai manusia yang jujur, mengabdi kepada kebenaran, dan berperilaku sehat. Dalam ajaran agama, puasa yang tidak diikuti dengan amal-amal kebajikan, maka puasanya akan sia-sia. Puasa yang tidak disertai dengan kejujuran, amal sholeh kepada orang lain, dan sejenisnya, menjadikan puasanya tidak berarti. Dia hanya akan mendapatkan dahaga dan lapar saja. Diperintahkannya puasa dalam tempo tertentu menunjukkan bahwa ini merupakan masa dan proses internalisasi nilai-nilai kebaikan pada diri manusia.
    Selama Ramadhan, sebulan penuh umat Islam melakukan suatu perjuangan yang berat, lebih berat dari perjuangan mengangkat senjata. Itulah perjuangan memerangi hawa nafsu, menghadapi musuh yang tidak tampak di mata dzahir tetapi justru berada pada diri mereka. Setelah sebulan penuh berpuasa, melatih diri, membina taqwa, maka dikibarkan panji dan bendera kemenangan melalui takbir dan tahmid. Bagi umat Islam yang sukses melalui bulan Ramadhan, Allah telah memberikan piagam penghargaan, sebagaimana sabda Rasulullah, ”Diampuni seluruh dosanya yang telah lalu.” (HR. Muslim)



Pengumuman

>> Lihat Semua Pengumuman

Agenda

>> Lihat Semua Agenda

Download

Video Youtube